Kalau ada nama bangunan yang amat ‘melegenda’ pada jaman kami dulu, di samping Makam Ki Buyut Trusmi, pastilah Bioskop Arjuna.
Pada jaman sekarang, Bioskop Arjuna sudah almarhum, berganti menjadi sebuah Mini Market Swalayan serba ada. Serba ada, mulai dari sandal jepit sampai tukang becak tersedia di sana. Dari cabe hijau keriting sampai cabe merah ’rebonding’ juga ada.
Kalian tau letaknya? Yah…bagi yang masih punya utang, masuk bioskop tidak bayar, atau punya hobby membolos sekolah, pasti hapal di luar kepala : di sekitar Pasar Jamblang. Sepelemparan batu, kata si Wiro Sableng.
Gedung bioskop itu, mempunyai 2 studio. Studio 1 dan Studio 2…[ ya iyalah, 1 dan 2! masa' 49 dan 75? ??! ] waktu pertama kali dibuka… wuih, penontonnya membludak melebihi konser Inul Daratista.
Tua Muda, Kaya Miskin, Lelaki Perempuan, Banci Wadam, yang pake sepatu sampe yang pakai sandal bangkiak, yang pakai kolor atau nggak pake kolor, semua tumplek… ramai minta ampun. Itulah kejayaan Bioskop Arjuna waktu itu.
Apalagi kalau hari Lebaran tiba, semua bentuk manusia tersedia di sana. Dari yang unik sampai yang antik, datang. Mulai bentuk trapesium sampai segitiga sama-sisi, mengunjungi. Tapi yang paling banyak : jajaran genjang…
Bagi adik-adik yang belum lahir pada jaman itu, atau masih bocah ingusan yang belum disunat, bayangkan saja ramainya suasana itu… persis konser Metalica gabung dengan Trio Macan.
Maklum, jaman kami muda dulu belum banyak hiburan, tidak ada handphone, tidak ada VCD, tidak ada Playstation, apalagi ’Studio 21′. Jadi kehadiran bioskop Arjuna serasa oase di Gurun Sahara yang tandus dan gersang, ibarat semur jengkol di antara rasa lapar.

Lantas apa istimewanya bioskop yang sudah ‘tewas’ ini?
Eit, sabar dulu…walaupun bioskop Arjuna sudah tewas, tapi kenangannya masih abadi dalam ingatan kami, tertanam dalam-dalam di relung memori. Apalagi bagi playboy sekaliber Risdiyanto.
Bioskop Arjuna adalah nafas hidupnya, darah dalam aliran nadinya, ringtone dalam dering handphone-nya, sukma bagi hidupnya, lumpur bagi Sidoarjo-nya. [ Maaf Risdiyanto, di mana pun kamu berada saat ini... cerita ini akan mengupas kejayaanmu menebarkan pesona Playboymu tempo dulu..hehehe ]
Ibarat buaya yang menemukan muara kubangannya, ibarat koboy menemukan Texas-nya, bioskop Arjuna adalah rumah keduanya. Kalau kamu tidak menemukan dia di rumahnya, carilah di toilet bioskop Arjuna, pasti dia bersemayam di sana.
Malam Minggu, adalah malam pembuktiannya sebagai ‘playboy’ bercula lima. Lima botol parfum, membalut harum tubuhnya. Mulai dari Bvlgari, AXE sampai kemenyan, melekat pada tubuhnya. Tujuh gayung minyak rambut, membuat jambulnya makin menjulang, meruntuhkan kejayaan jambul Elvis Presley, apalagi jambul Tin-Tin Anwar Buyung.
Malam minggu, saatnya menebarkan kepak pesonanya….!
[ Bersambung ..... ]