Bagaimana saya harus memulai misi Mak Comblang ini?
Langkah awal apa yang harus saya lakukan…? Ah, dasar si Akmadi dodol, bikin ruwet suasana saja.
Oke,
aku mulai dengan membaca buku “7 Langkah Sukses Menjadi Mak Comblang” kemudian membaca “Memulai Mak Comblang dengan Modal Dengkul” selanjutnya membaca “Tips Gila menjadi Mak Comblang” terakhir aku membaca “Buku Biografi Sintong Panjaitan : ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” …(apa hubungannya, yah?)
Intinya, aku mencoba menjadi seorang Mak Comblang yang baik dan profesional. Tidak mengecewakan client, tidak membuat korban comblangan menderita lahir batin, tidak ada korban jiwa dan terutama sedikit keluar biaya…hehehe.
Walaupun, saat itu hati saya menderita ( huuu..huuhuu…)
Bagaimana tidak menderita, yang mau saya jadikan korban comblangan adalah Sri, gadis manis berpita merah, yang selama ini masih bermain-main di lamunanku?
Btw, demi profesionalisme : tugas ini harus saya laksanakan dengan baik dan sukses!
Merdeka!! Hu..hu..hu…
***
Langkah awal, ku awasi gerak-gerik Sri setiap saat. Siapa saja teman dekatnya, siapa saja cowok yang mendekatinya, kebiasaannya apa, makanan favoritnya apa, bacaan favoritnya apa, dan seterusnya dan seterusnya.
Ku telusuri siapa teman dekatnya, untuk dijadikan batu loncatan langkah selanjutnya. Oke, kudapatkan : namanya Eli, hampir kemana-mana Sri selalu bepergian dengan cewek keriting yang lincah dan periang itu. Mmm… sekilas Eli memang mirip batu…(cocok untuk batu loncatan neh guys…)
Ku telusuri lagi, siapa saja cowok yang mendekatinya. BUSYEET!! Banyak banget, ada Adiman, Imam, Subandi, Rusyadi,… Wah gawat nih, jelas saja kelas mereka jauh di atas Akmadi. Secara hitungan matematis politis : mereka itu partai besar, sementara Akmadi cuma partai gurem.
Jelas, untuk bertarung memperebutkan kursi di hati Sri, Akmadi kalah telak. Pake koalisi 10 partai pun, posisi Akmadi masih kalah telak.
Ku telusuri lagi, kebiasaannya apa aja sih? Mmm, yang pasti kemana pun dia pergi, selalu ada buku yang dia bawa. Setiap saat baca buku. Jarang nongkrong di warung, kalau senyum manis dan selalu ditutupi dengan malu-malu.
Hampir setiap hari ku awasi setiap gerak-geriknya, aku makin mengenal karakter pribadinya dan justru ini yang membuatku makin tersesat dalam pesonanya. Ampuuunn…
“Bagaimana, sudah kau sampaikan pesanku?” tanya Akmadi hampir setiap hari.
“Sorry, belum sempat Ak…”
“Ayo dong, aku sudah hampir bunuh diri neh, selalu ingat wajahnya…”
“Oke…Oke…besok akan aku sampaikan.”
”Bener nih?!” Akmadi meyakinkan, dengan mata berbinar penuh harap.
”BENER!”
***
Hari H, Jam istirahat.
Target 1 Operasi : mendekati Eli, temen deket Sri.
Sengaja ku tunggu si Eli keluar dari kelas 2G, kebiasaan si Eli kalau jam istirahat dia selalu pergi ke WC.
Itu sudah masuk dalam catatan operasiku.
“Hai, Eli…” aku mencoba memberikan senyum termanis penuh persahabatan.
“Hai! Ah kebetulan nih, ketemu sama kamu…” dia nyerocos duluan, seperti burung kutilang.
Aku yang bingung, “Loh kenapa?”
”Iya neh, rencananya hari ini aku mau ketemu kamu…”
”Ketemu aku? Mau ngapain?”
”Sri katanya mau pinjam buku Geografimu, tapi dia malu… makanya, dia nyuruh aku buat minjem buku Geografimu…”
ASTAGA! Ini mimpi atau dunia nyata…?!
Misi dibatalkan.
Rudal yang mau diluncurkan, ditarik kembali. Target balik mengirimkan roket anti rudal.
***
Hari H+1, Jam pulang sekolah
Target utama operasi : Sri.
Hari ini harus kubulatkan tekad, misi mak comblang harus berhasil dengan penuh profesionalitas, kalau tidak : Akmadi akan bunuh diri dengan pisau paling tumpul di dunia.
Di ujung koridor sekolah yang sepi, kulihat Sri berjalan berdua dengan Eli.
Dengan degup jantung berdetak kencang dan hati meloncat-loncat tak menentu, ku dekati dua mahluk itu.
”Hai…” aku mencoba ramah lagi dengan hati berkecamuk tak menentu.
”Hai!! Eh, kebetulan lagi kita ketemu…” kembali si burung kutilang itu yang nyerocos duluan, ”kita mau makan es campur nih, ikut yuk…?! Sri lagi ulang taun, dia yang traktir…”
OH, dia Ulang Tahun?!
”Oh, selamat ulang tahun ya…?” ku ulurkan tanganku, jantung serasa mau berhenti berdetak.
”Thanks.”
Ketika pertama kali tangannya ku jabat, jantung benar-benar sudah berhenti berdetak.
***
Dan,
Di warung es campur dekat sekolah Neplusa, misiku berubah : meledakkan diri sendiri. Ketika si Eli dengan santainya berkata :
”Eh, Sri kirim salam buat kamu loh…”
Mukanya yang manis itu bersemu merah. Maniiiiiiiiiiis sekali…
Ku kirim pesan singkat ke Akmadi : silahkan bunuh diri, saat ini juga!
MISI GAGAL TOTAL.