Balada Risdianto dan Peppy

Posted in Cerita Nostalgia on April 30, 2009 by abyasa2

Kalau dunia mengenal cerita Romeo dan Juliet, di Betawi termasyhur kisah Nyai Dasimah dan Mi’un, di Cirebon ada legenda Baridin dan Suratminah, maka di angkatan kami ada kisah cinta Peppy dan Risdianto.

Yeah, cerita cinta mereka adalah kenangan abadi angkatan kami. Walaupun akhirnya kita belum tau, gimana akhir ceritanya sekarang. (Entah sekarang jadi suami istri, atau malah jadi pembantu dan majikannya…hahaha) Jaman itu, ibarat sendal jepit : mereka selalu berdua.
Ibarat panci dan tutupnya, ibarat kucing dan kutunya, ibarat sigung dan baunya…
Kalau ada Peppy, selalu ada Risdianto. Di mana pun, kecuali mungkin di toilet dan atap sekolah.

Entah bagaimana awalnya mereka bertemu, yang pasti kami selalu menemukannya berduaan di sekolah, kapan pun dimanapun.
Peppy, cewek berambut pendek kelas 2G yang kurus tapi manis, adalah cewek kesekian yang terkena rayuan gombal playboy kita, dan menjadikannya ‘madu tiga’ seperti nyanyian Ahmad Dhani (yang lagi ngetop sekarang).
“Udahlah Pep, jangan dekati Risdianto..” bujuk Dewi temannya, “dia itu buaya…”
“Dia juga bunglon!” Aan mencoba ikut memperkuat bujukan Dewi.
“Dia juga kuda nil…” Novi tak mau kalah.
Yah, walaupun Risdianto diibaratkan cowok ‘kebun binatang’ oleh teman-temannya, tapi Peppy tak perduli.

Kemana-mana, kami masih melihatnya berdua.
Yang menangguk untung dari kisah cinta mereka, jelas Endang Komala. Mak comblang cinta bercula dua, berekor kuda.
Kalau Peppy hendak bertemu Risdianto, dialah penghubungnya.
“Ndang, tolong panggilin Risdianto dong…”
“Komisinya dong…”
Dan dengan lembaran ribuan, dia selalu siap memanggil Risdianto.
“Ris…di ajak Peppy ketemuan…” katanya menyampaikan pesan.
“Ketemuan di mana..?”
“Komisinya dong…”
Yah, mak comblang ini memang harus dibasmi dengan pestisida.

Tapi entah, bagaimana nasib kisah cinta Risdianto dan Peppy kini.
Tragiskah atau penuh lautan madu?

Apakah teman-teman ada yang tau, di mana mereka sekarang berada?

Hama Pengganggu #2

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 23, 2009 by abyasa2

Sejarah mencatat, seorang Napoleon Bonaparte Sang Kaisar perang Romawi yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran, ternyata takluk hanya dalam pelukan seorang Cleopatra.

Adiman [ pasti ] bukan Napoleon Bonaparte sedangkan pesona Yuyun yang setingkat Cleopatra, jelas membuatnya bertekuk lutut di dalam aura pesona Yuyun. Yah, akhir-akhir ini mahluk yang biasanya hidup [ dan beradaptasi terhadap lingkungannya ] dengan gaya jingkrak-jingkrak dan melompat-lompat, menjadi sosok yang alim dan sopan.

Kesambet apa anak punk yang satu ini?
Kesambet jin botak berkepang tujuh dari Gedung Tua pabrik gula kah?

Entahlah guys…
Tapi yang pasti perubahan anak urakan itu harus dibayar mahal dengan seringnya Yuyun berjalan bersama dengan dia. Ada apa dengan Yuyun?
Apa yang menyebabkan Adiman menjadi kalem dan Yuyun menjadi mau berjalan berdua dengannya?

Yang jelas, kami semua bertanya-tanya waktu itu…
Kami bingung, Hernalijo semaput. Dia sampai mengadakan aksi dramatis : mogok makan buah jengkol.
”Kalau Yuyun masih tetap berjalan berdua dengan Adiman, saya mogok makan…” ancam Hernalijo.

***

Tapi, sejak Adiman menjadi kalem, kelas kami [ bahkan seluruh kelas angkatan kami ] menjadi damai, tidak ada lagi hama wereng pengganggu. Tidak ada lagi manusia punk yang menggoda kaum cewek di kelas kami.

Tidak ada lagi wajah gothic-nya yang selalu nongol di sela-sela jendela kami.
Sarudin tidak lagi jantungan, saat kepala jabriknya tiba-tiba nongol di jendela kelas kami.

Apa yang terjadi dengan semua ini?
Permainan macam apa yang sedang diperagakan oleh Yuyun, sehingga membuat mahluk turunan Planet Uranus ini menjadi kalem dan santun?

Jawabannya terbongkar seminggu kemudian, guys…

Ternyata, Yuyun menerapkan beberapa syarat tantangan kalau Adiman hendak menjadi pacarnya, yaitu :
1. Jangan urakan dan mengganggu cewek kelas kami
2. Mengamalkan pendidikan moral pancasila dengan baik dan benar
3. Mengerjakan soal fisika dari bab 1 sampai bab 7
4. Mengerjakan soal Biologi dari bab 3 sampai bab 9
5. Mengerjakan soal Matematika dari bab 2 sampai bab 8
6. Jangan pipis sembarangan

Kalau dalam seminggu dia bisa melalui semua tantangan itu, Yuyun rela menjadi pacar ketiganya.
Busyet, tantangan yang sangat berani dan penuh resiko.
Mirip sayembara Roro Jonggrang untuk membangun seribu candi dalam satu malam…

Ooh, pantes saja selama seminggu ini, mahluk antik itu menjadi amat kalem dan penurut.

***

Untungnya, Adiman gagal total melaksanakan tantangan itu.
Ketika pagi hari Adiman kembali berulah menjadi urakan dan liar, mirip pemain kuda lumping kena paku. Kembali ke gaya adaptasi terhadap lingkungannya dengan berjingkrakan.
Mana sanggup dia tidak pipis sembarangan ?

Biarlah ’kuda lumping’ itu kembali mengusik taman indah milik kami, yang penting bunga harum itu tidak menjadi miliknya. Anggap saja, gangguan itu sebagai intermezo dalam pertunjukan tarling.

Hernalijo yang sangat girang mendengar Adiman gagal menjalankan semua tantangannya, “YESSS, Yuyun is still in my heart…YeaaAAAH!”
Dia menghentikan aksi mogok makan buah jengkolnya.
Dan syukuran tujuh hari tujuh malam : tidak sikat gigi.
(DONT TRY IT, AT HOME !!!)

SMS dari Mukholik

Posted in Selepas dari Neplusa on Maret 21, 2009 by abyasa2

Hari ini, 21 Maret 2009, ketika sedang menikmati udara yang mendung dan dingin sehabis di guyur hujan, HP ku menerima sebuah SMS.

“Assalamu’alaikum. Dengan memohon Rahmat Allah SWT kami mengundang Saudara untuk berkenan hadir pada syukuran pernikahan kami “ADE RIYANTI dgn MUKHOLIK” yang Insya Allah di selenggarakan pada : SELASA, 31 Maret 2009 pukul 11.00-17.00 WIB di Jln. Sunyaragi Gg. Kinurakim No.52 Cirebon. Kehadiran serta do’a restu Saudara sangat kami nantikan. Wassalamu’alaikum.”

Ade & Olik

Yah, Mukholik, temenku Neplusa dulu, anak Plered yang keriting dan putih. Dia memang bukan termasuk anak IC atau 2F, tapi aku masih ingat sosoknya dan gayanya.

Itulah guys, kekuatan sebuah persahabatan. Setelah dipisahkan waktu sekitar 20 tahun dan jarak ribuan kilometer, kami masih tetap menjalinnya.

Maaf, Lik… aku cuma bisa mengirimkan do’a restu untukmu, dan tidak bisa hadir dalam pesta bahagiamu. Semoga berbahagia Kawan, selamat…akhirnya kau laku juga…hehehe

Bagi kawan2 Neplusa 92 [ di Cirebon dan sekitarnya ] yang pernah sekelas dengannya atau mengenal sosoknya, silahkan hadiri dan menjadi saksi di hari berbahagianya.

Hama Pengganggu

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 19, 2009 by abyasa2

Seperti sudah digariskan oleh alam, kalau taman indah penuh bunga pasti akan dihinggapi aneka kumbang dan juga hama wereng.

Begitu juga keadaan kelas kami. Kelas kami yang penuh keindahan oleh taburan pesona Yuyun, Wiwik, Lilis, Fatmawati, Sanira, dan lain-lain, sudah pasti mengundang kumbang-kumbang datang merayu pesonanya. Tapi sayangnya yang datang ( kayaknya ) bukan kumbang, tetapi hama wereng.
Dan, dia bernama Adiman.

Adiman, murid cowok kelas sebelah [ yang selalu berpenampilan gothic, antik, eksentrik dan rambut jabrik ], selalu beredar menebarkan pesona di sekitar jendela kelas kami.
”Hai, Yuyun…” godanya dari balik jendela, pada hari Senin, dengan rambut berjambul dangdut.
”Hai, Wiwik…” rayunya dari balik jendela, pada hari Selasa, dengan 3 kancing baju terbuka di dada.
”Hai, Lilis…” katanya dari balik jendela, pada hari Rabu, dengan celana melorot sebatas lutut.
Pada hari Kamis, jendela kelas ditutup rapat-rapat oleh Sarudin.

***

Terus terang saja, kami merasa terganggu dengan penampilan dan rayuan gombalnya.
“Kita harus ambil tindakan neh…” Kata Gatot, yang sudah gatel ingin menghentikan agresi Adiman kepada murid cewek kelas kami.
”Tenang…tenang, kita cari langkah-langkah persuasif dulu…” Muhaimin, sang Ketua Murid, mencoba menenangkan suasana, layaknya politisi yang hendak menawarkan koalisi.

Tindakan persuasif yang ditempuh Muhaimin, adalah dengan pendekatan liberal antar kedua kelas, 2F dan 2D. Muhaimin menghubungi Ketua Murid 2D, Wahyu.
”Tolonglah, Yu…nasehati Adiman, jangan mengganggu kedaulatan wilayah kami…” Muhaimin mulai bernegosiasi.
”Oke, nanti kita usahakan…”

Negosiasi itu berlangsung di meja bundar, kantin sekolah. Terinspirasi pada semangat peristiwa Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dari tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949.
[ Masih inget nggak, pelajaran sejarah? ]

Tapi, ternyata perjanjian konferensi dilanggar : Adiman tetap tidak bisa dihentikan agresinya. Malah tindakannya lebih nekat, dia mendekati murid cewek lebih agresif.
”Hai,…kenalan dong.” dia merayu Fatmawati di parkir sepeda, ketika jam sekolah usai.
Fatmawati cuek.
”Kenalan doong…” tangannya mulai kreatif mencolek Fatmawati.
Dan ternyata tangan Fatmawati lebih kreatif : KLEPAK…!!
Adiman terkapar pingsan, setelah Fatmawati mendaratkan sepeda di mukanya.

***

“Wah, ini tidak bisa di diamkan, ini sudah melanggar kedaulatan kita!”
Gatot sudah tidak bisa menahan amarahnya. Sang Bodyguard kelas kami ini langsung menyingsingkan lengan baju, mengangkat bahu, memanggul pacul, begitu mendengar insiden pencolekan Fatmawati.

Cowok-cowok sudah siap sedia membela tanah tumpah darah.
Tapi, kami langsung melongo bengong ketika tiba-tiba Yuyun berbicara dengan tegas, ”tenang…jangan pake cara kekerasan, biar saya yang selesaikan..”
HAAH?!!!
Bagaimana kami harus tega, mengumpankan aset paling berharga kelas kami kepada hama wereng pengganggu itu?.
”Yuyun, jangan mau jadi istri Adiman…hu..hu..hu!!” Hernalijo yang nampak terpukul sekali mendengar keputusan Yuyun…”Yun, sadarlah, kemabalilah ke jalan yang benar…”

Kami bingung, apa yang akan dilakukan dara manis itu?
Bersedia menjadi pacar Adiman kah, demi ketentraman kelas kami..?!
Ah, kami semua tidak rela…

***

Besoknya,
Penampilan Yuyun benar-benar amat mempesona, 1000 kali lipat lebih manis dari sebelumnya, dengan rambut memakai pita merah jambu yang berjuntai-juntai.
Manis nian, Kawan…!

Kami langsung dibuatnya panas dingin, Hernalijo yang amat memujanya makin kejang-kejang dan mulut berbusa, Adiman makin intensif mendekatinya…
”Hai manis, kenalan dong…”
”Hai cantik, kenalan dong…”
Gaya Adiman makin tak karu-karuan setiap hari, mencoba memikat Yuyun. Rambut berjambul, celana berantai, sepatu beroda, punggung berekor.

Begitulah hari demi hari Yuyun makin mempesona saja, kami sudah pingsan semua dimabuk pesonanya selama seminggu. Dan inilah berita terakhir yang membuat kami lesuh darah : dia berjalan berduaan dengan Adiman!

Ah, puteri jelita itu akhirnya di makan buto ijo, seperti dongeng Timun Mas…
Kami mengutuk-ngutuk dan berharap semoga Buto Ijo itu cepat menjemput ajalnya…
“Yun, jangan biarkan kamu mengorbankan diri demi kita…” rengek Hernalijo, ”biarlah ku ganti posisi dirimu, jadikan aku pacar Adiman…”
Yuyun menjawab kalem, “Tenang…permainan belum berakhir, Her…”

Permainan?
Permainan apalagi Yun…?

To be Continued

Soundtrack

Posted in Tak Berkategori on Maret 19, 2009 by abyasa2

Andaikan saya menjadi sutradara atau produser [ hehehe... ] dan mengadopsi cerita dalam blog ini menjadi sinetron picisan [ atau minimal cerita Tarling, Sandiwara, Tayub dan Sintren ], lagu ini yang akan saya pakai buat soundtracknya :

Hitamku
[ Andra And The Backbone ]

masih adakah separuh hatiku
yang kuberikan hanya untukmu
kuharap engkau masih menyimpannya
jangan kau pernah melupakannya

*
maafkan kata yang tlah terucap
akan kuhapus jika kumampu
andai kudapat meyakinkanmu
kuhapus hitamku

masih adakah separuh janjiku
yang kubisikkan hanya padamu
kuharap engkau masih mengingatnya
jangan kau pernah melupakannya

back to *

andai kudapat memutar waktu
semuanya takkan terjadi

back to *
kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh hatimu)
kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh janjimu)
kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh hatimu)
(simpan separuh janjimu)

Thanks,
Buat Andra and The Backbone yang sudah aku jiplak lirik lagunya

Mak Comblang Part 2

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 17, 2009 by abyasa2

Bagaimana saya harus memulai misi Mak Comblang ini?

Langkah awal apa yang harus saya lakukan…? Ah, dasar si Akmadi dodol, bikin ruwet suasana saja.

 

Oke,

aku mulai dengan membaca buku “7 Langkah Sukses Menjadi Mak Comblang” kemudian membaca “Memulai Mak Comblang dengan Modal Dengkul” selanjutnya membaca “Tips Gila menjadi Mak Comblang” terakhir aku membaca “Buku Biografi Sintong Panjaitan : ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” …(apa hubungannya, yah?)

 

Intinya, aku mencoba menjadi seorang Mak Comblang yang baik dan profesional. Tidak mengecewakan client, tidak membuat korban comblangan menderita lahir batin, tidak ada korban jiwa dan terutama sedikit keluar biaya…hehehe.

Walaupun, saat itu hati saya menderita  ( huuu..huuhuu…)

 

Bagaimana tidak menderita, yang mau saya jadikan korban comblangan adalah Sri, gadis manis berpita merah, yang selama ini masih bermain-main di lamunanku?

Btw, demi profesionalisme : tugas ini harus saya laksanakan dengan baik dan sukses!

Merdeka!! Hu..hu..hu…

 

***

 

Langkah awal, ku awasi gerak-gerik Sri setiap saat. Siapa saja teman dekatnya, siapa saja cowok yang mendekatinya, kebiasaannya apa, makanan favoritnya apa, bacaan favoritnya apa, dan seterusnya dan seterusnya.

 

Ku telusuri siapa teman dekatnya, untuk dijadikan batu loncatan langkah selanjutnya. Oke, kudapatkan : namanya Eli, hampir kemana-mana Sri selalu bepergian dengan cewek keriting yang lincah dan periang itu. Mmm… sekilas Eli memang mirip batu…(cocok untuk batu loncatan neh guys…)

 

Ku telusuri lagi, siapa saja cowok yang mendekatinya. BUSYEET!! Banyak banget, ada Adiman, Imam, Subandi, Rusyadi,… Wah gawat nih, jelas saja kelas mereka jauh di atas Akmadi. Secara hitungan matematis politis : mereka itu partai besar, sementara Akmadi cuma partai gurem.

Jelas, untuk bertarung memperebutkan kursi di hati Sri, Akmadi kalah telak. Pake koalisi 10 partai pun, posisi Akmadi masih kalah telak.

 

Ku telusuri lagi, kebiasaannya apa aja sih? Mmm, yang pasti kemana pun dia pergi, selalu ada buku yang dia bawa. Setiap saat baca buku. Jarang nongkrong di warung, kalau senyum manis dan selalu ditutupi dengan malu-malu.

 

Hampir setiap hari ku awasi setiap gerak-geriknya, aku makin mengenal karakter pribadinya dan justru ini yang membuatku makin tersesat dalam pesonanya. Ampuuunn…

“Bagaimana, sudah kau sampaikan pesanku?” tanya Akmadi hampir setiap hari.

“Sorry, belum sempat Ak…”

“Ayo dong, aku sudah hampir bunuh diri neh, selalu ingat wajahnya…”

“Oke…Oke…besok akan aku sampaikan.”

”Bener nih?!” Akmadi meyakinkan, dengan mata berbinar penuh harap.

”BENER!”

 

***

 

Hari H, Jam istirahat.

Target 1 Operasi : mendekati Eli, temen deket Sri.

 

Sengaja ku tunggu si Eli keluar dari kelas 2G, kebiasaan si Eli kalau jam istirahat dia selalu pergi ke WC.

Itu sudah masuk dalam catatan operasiku.

“Hai, Eli…” aku mencoba memberikan senyum termanis penuh persahabatan.

“Hai! Ah kebetulan nih, ketemu sama kamu…” dia nyerocos duluan, seperti burung kutilang.

Aku yang bingung, “Loh kenapa?”

”Iya neh, rencananya hari ini aku mau ketemu kamu…”

”Ketemu aku? Mau ngapain?”

”Sri katanya mau pinjam buku Geografimu, tapi dia malu… makanya, dia nyuruh aku buat minjem buku Geografimu…”

ASTAGA! Ini mimpi atau dunia nyata…?!

 

Misi dibatalkan.

Rudal yang mau diluncurkan, ditarik kembali. Target balik mengirimkan roket anti rudal.

 

***

 

Hari H+1, Jam pulang sekolah

Target utama operasi : Sri.

 

Hari ini harus kubulatkan tekad, misi mak comblang harus berhasil dengan penuh profesionalitas, kalau tidak : Akmadi akan bunuh diri dengan pisau paling tumpul di dunia.

Di ujung koridor sekolah yang sepi, kulihat Sri berjalan berdua dengan Eli.

Dengan degup jantung berdetak kencang dan hati meloncat-loncat tak menentu, ku dekati dua mahluk itu.

 

”Hai…” aku mencoba ramah lagi dengan hati berkecamuk tak menentu.

”Hai!! Eh, kebetulan lagi kita ketemu…” kembali si burung kutilang itu yang nyerocos duluan, ”kita mau makan es campur nih, ikut yuk…?! Sri lagi ulang taun, dia yang traktir…”

OH, dia Ulang Tahun?!

”Oh, selamat ulang tahun ya…?” ku ulurkan tanganku, jantung serasa mau berhenti berdetak.

”Thanks.”

Ketika pertama kali tangannya ku jabat, jantung benar-benar sudah berhenti berdetak.

 

***

 

Dan,

Di warung es campur dekat sekolah Neplusa, misiku berubah : meledakkan diri sendiri. Ketika si Eli dengan santainya berkata :

”Eh, Sri kirim salam buat kamu loh…”

Mukanya yang manis itu bersemu merah. Maniiiiiiiiiiis sekali…

 

Ku kirim pesan singkat ke Akmadi : silahkan bunuh diri, saat ini juga!

MISI GAGAL TOTAL.   

Mak Comblang Part 1

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 16, 2009 by abyasa2

Mak Comblang,
Bukan saudara jauh Mak Lampir apalagi ipar Mak Erot. Dia semacam kabel, yang kegiatannya menghubungkan elektron kutub positif dan kutub negatif, sehingga menjadi sumber tenaga. Sumber tenaga yang bernama asmara puber pertama.

Nah, berhubung di kelas kami banyak yang mukanya mirip kabel, maka kegiatan Mak Comblang adalah kegiatan yang lumrah di kelas kami. [ Apalagi di kelas kami banyak unsur yang negatif, hehehe...] Bahkan ada yang membisniskan kegiatan ini, salah satu contohnya Endang Komala.
Dialah [yang disinyalir menjadi] mak comblang Peppy dengan Risdianto, Siswanto dan Yeni, Lilis dan Harto, terakhir Alamsyah dan Heri.

Seperti di pojok kantin kelas siang itu,
”Kom, tolong sampaikan salam buat Risdianto yah?” kata Peppy, kelas 2H.
“Syaratnya mana?”
Dan keluarlah sebatang permen coklat SilverQueen rasa pisang bakar untuknya.

Di siang yang lain,
“Kom, sampaikan salam buat Lilis yah?” kata Harto, anak kelas 2G, yang berambut basah kelimis.
“Syaratnya dong…?”
“Ngutang dulu deh…!”
“Ya udah, salamnya sampe besok lusa…”

Begitulah kira-kira kegiatan mak comblang kita pada waktu itu, 1989. Harap maklum, jaman itu belum ada mahluk bernama HP, Facebook, Friendster atau apa pun alat yang bisa menghubungkan perkenalan kita dengan mudah. Alat hubung efektif perkenalan yang ada saat itu adalah mak comblang, surat dan batu.

Surat, banyak kelemahannya diantaranya lama diterima, kadang salah alamat dan harus beli perangko. Jadi jarang digunakan. So… yang paling efektif cuma dua : mak comblang dan batu.
Batu?! Ya batu… kalau kamu mau kenalan, tinggal timpuk aja dia pake batu :
“Ngapain kamu nimpuk saya?!” dia pasti akan mendekatimu dengan jengkel.
“Mau kenalan, boleh kan?!”
BUK!
Siap-siap aja, kamu kena bogem dia sebelum kenalan berlanjut. Cara ini pernah dipraktekan oleh Sarudin. Dan terbukti, tiga kali kepala benjol kena bogem tetapi perkenalan belum nyambung juga.

***

Nah, saya punya pengalaman yang ruwet dengan masalah yang bernama Mak Comblang ini. ketika pada suatu pagi, menjelang jam istirahat, Akmadi datang menghampiri saya dengan muka memelas.
Saya jamin, kalau dengan muka seperti itu dia berdiri di simpang lampu merah, banyak uang recehan menghampirinya dengan perasaan penuh iba atau bisa juga petugas Tramtib Satpol PP menggaruknya untuk di data di kantor Dinas Sosial.

“Tolonglah aku…” rengeknya seperti perpaduan suara rintihan kejepit pintu dan batuk kering.
“Kenapa, kamu…? Belum makan obat?”
“Aku terserang demam…”
“Demam atau AIDS?”
”Demam asmara…tolonglah aku…”
Kalau dia bukan sobatku, sudah kugunakan dia buat umpan pancing ikan lumba-lumba di laut.

Berkeluh-kesahlah dia tentang demam asmaranya yang kronis itu. Ternyata…Oh, ternyata, dia tengah demam asmara ke Sri, anak 2G yang berpita merah yang manis itu.
”Tolonglah sampaikan salamku, kamu kan udah dekat sama dia…?” dia merengek lagi, kali ini sambil berbangkis. [ Aku juga baru belajar kenal dengan dia, Dodol! Makiku dalam hati ]
Dan, aku juga terjerat demam asmara seperti yang dia rasakan, dengan orang yang dia idamkan…
Taukah itu, hai Akmadi dodol?
Gimana coba, aku harus mengungkapkan hal ini…?
”Tolongggg akuuuu..hu..hu..”
”OKE, OKE…” daripada dia nangis sambil meluk-meluk aku, aku putuskan setuju saja.
”THANKS?!” eh, dia melonjak girang dan meluk aku juga… Hiiii Jijay Marijay Sanjay Maranjay Ranjay…!!!

***

Bagaimana aku harus memulai aksi mak comblang ini? apa yang pertama harus aku lakukan?
Sedangkan menatap sosoknya saja, aku sudah kejang-kejang oleh pesonanya…

To be Continued

Bike To Telaga Remis #2

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 16, 2009 by abyasa2

TELAGA REMIS sebuah obyek wisata terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jaraknya ±37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan ±13 km ke arah selatan dari kota Cirebon.

Kesanalah tujuan kami, Minggu itu.

“Muhaimin, absen dulu anggota yang ikut,” kata Pak Sewaka, untuk memastikan jumlah rombongan yang berangkat dengan jumlah yang pulang nanti, atau untuk memastikan supaya nanti anggota rombongan tidak tertukar dengan termos, panci, sandal jepit atau mahluk lainnya.
”Oke pak lengkap, hadir semua…” Muhaimin, sang Ketua Murid memberikan laporannya.

Setelah membaca do’a, sedikit petuah, (dan jampi-jampi seperlunya) akhirnya rombongan kami berangkat.
”GO!!” Pak Sewaka menyemangati.

Berangkatlah kami ke Telaga Remis, tepat pukul 07.00 WIB, dengan udara cerah berawan.
Rute yang kami tempuh waktu itu adalah start dari pintu gerbang Neplusa, menuju ke arah selatan ke arah Desa Purbawinangun (Cibiyuk), belok ke arah Desa Kasugengan Lor, Pasar Jamblang, belok lagi ke selatan, ke desa Kasugengan Kidul, Sidapurna, Waru Royom, Depok, terus ke selatan.

Sepanjang perjalanan itulah, ku saksikan aneka gaya anak-anak 2F Neplusa, mulai mendekati buruan hatinya masing-masing. Maklum, remaja SMP yang sedang kesambet asmara di puber pertama. Yang paling ku suka adalah gaya Nono, sang seniman gila kita. Dengan sepeda BMX modifikasinya (ban belakang pake ban vespa, dan ban depan pake roda traktor), hingga menyerupai perpaduan wujud motor Harley Davidson dan jerapah bunting. Dia mencoba meliuk-liuk di depan Lilis, menunjukkan kebolehannya, seperti kerbau jantan memikat betinanya.

Lilis masih acuh, ketika Nono meliuk di depannya dengan melepaskan kedua tangannya dari setir sepeda.
Nono tidak menyerah, dia mencoba atraksi lain dengan lepas kaki campur aksi akrobat jungkir balik.
Lilis masih cuek, dan hasilnya Nono dengan sukses nyungsep di pinggir sawah sekitar daerah Bobos.

Hernalijo yang sedang mendekati Yuyun, tak kalah heroiknya dia beratraksi. Mulai dari lepas tangan, lepas kaki, lepas baju, hingga lepas kolor dia lakukan semua. Dan hasilnya masih tetap nihil.

Muhaimin, diam-diam mendekati Wiwik yang sedingin es campur. Sarwadi mendekati Sanira, yang mulai kelihatan merona pipinya di timpa cahaya mentari pagi. Justru yang aneh, ketika Fatmawati mendekati Yosep yang dengan cool-nya menyalip sepeda kami semua.
“YOSEP! Tunggu dooong…” rengek Fatmawati manja.
Yosep yang memakai walkman di telinganya, masih acuh mengayuh sepeda balapnya.
”YOSEP, TUNGGU!!”
Yosep masih acuh.
Sampai akhirnya dia nyungsep, ketika sepatu Fatmawati mendarat di kepalanya.

Aku, Afandi, Yakub, Heri, Alamsyah dan kumpulan yang terbuang lainnya, cuma menikmati ulah mereka dari belakang.

***

Di sekitar daerah Keramat, kami beristirahat di gubuk kecil pinggir sawah.
Dan mulailah kita menyantap makanan kecil dan minuman yang kita bawa untuk bekal di perjalanan. Hernalijo yang membawa perbekalan paling banyak di tas ranselnya, segera membuka isi tasnya. Mulai dari serabi, minuman dingin, bakwan, lontong sayur, kompor, meja makan 4 kursi, kulkas, semuanya dia bawa.

Dan kembali, dia merayu Yuyun, ”ayo Yun, minum sesuka yang kamu mau…”
”Makasih, saya sudah bawa sendiri…”
Yuyun menghindar, sambil duduk di sampingku yang sedang minum teh manis dari ranselku.
Aku menjadi gemeteran.

Untuk membunuh canggungku, aku pura-pura memetik bunga ilalang liar yang tumbuh di dekatku.
”Mau kue nggak?” tiba-tiba dia menawarkan kue yang dia bawa.
Aku makin gemeteran, lidahku keluh.
”Ini bikinan Mama sama aku, tadi malam…”
Mmm, pantesan manis, lembut, seperti yang membuatnya…ufs?! hehehe…

Begitulah teman.
Dalam keadaan canggung, gugup dan gemetar, aku coba mencairkan suasana, iseng kuberikan bunga ilalang liar yang aku petik tadi.
“Sorry, aku cuma bawa ini…” ide gila! Ku berikan bunga ilalang itu.
”Thanks! Oh, ternyata indah yah?”
Diluar dugaan akal sehatku, dia menyematkan bunga ilalang di rambutnya.

Begitulah teman.
Sepanjang perjalanan bersepeda kami – ke Telaga Remis – dia menyematkan bunga ilalang liar pemberianku di atas telinganya. Berkibar-kibar indah di tiup angin pegunungan yang sejuk, seperti hatiku yang juga berkibar-kibar tak menentu.

Hijaunya pepohonan yang tumbuh lebat menambah suasana bertambah sejuk hati ini di sepanjang jalan menuju kawasan obyek wisata Telaga Remis.

***

Telaga Remis Sendiri saat ini di kelola oleh PT. Perhutani Kabupaten Cirebon, selain menawarkan keindahan telaga juga terdapat hutan yang tumbuh lebat di areal obyek wisata. Hal ini menambah hijaunya pemandangan di sekeliling kawasan obyek wisata tersebut.

Telaga Remis merupakan perpaduan antara pesona alam hutan pegunungan serta air danau yang jernih, bening seperti kaca serta didukung udara pegunungan yang sangat sejuk.

Bike To Telaga Remis

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 13, 2009 by abyasa2

Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah.

Tetapi aku tidak akan bercerita tentang jalan mana saja yang bisa dipakai untuk menuju ke sana, sorry guys…aku belum pernah pergi ke Roma. So jangan tanya ke saya yah?

Pepatah tersebut mau aku jadikan umpama, cara para Wali Kelas untuk mendekatkan diri pada anak didiknya.
Ya tentu saja, seorang Bapak/Ibu harus dekat dengan anaknya. Ada dengan cara pendekatan kekeluargaan dengan mendengarkan keluh-kesah anak didiknya, atau mungkin dengan cara-cara lain.
Tergantung tipe dan tipikal Wali Kelasnya masing-masing.

Dulu, wali kelas kami namanya Pak Sewaka, Guru Biologi, orangnya baik dan ganteng, dengan bekas cukuran jambang yang membiru. Itulah ciri-ciri yang mebuat murid-murid cewek di kelas kami tergila-gila. Pendekatan beliau kepada kami, waktu itu, salah satunya dengan mengajak kami bersama-sama bersepeda di hari Minggu, menuju ke salah satu tempat wisata di sekitar Kabupaten Cirebon.

Salah satunya, bersepeda ke Telaga Remis. Dan inilah ceritanya …

***

”Besok Minggu, kita ke Telaga Remis yuk?!” ajak Pak Sewaka, setelah pelajaran terakhir selesai.
”Naik apa Pak?” tanya Muhaimin, sang Ketua Murid.
”Naik sepeda dong, biar sehat…”
”ASYIIIIK!!” hampir serempak murid-murid kelas kami jingkrak-jingkrak gembira.
“Besok, jam 07 pagi kita kumpul di sekolah…”.

Esoknya, Minggu, 05.30 WIB
Hernalijo sudah membersihkan sepeda BMX-nya yang dia modifikasi dengan ban traktor dan roda pedati. Demi mendampingi Yuyun – sang pujaan hati – dia rela memanggul sepedanya dari Trusmi ke Plumbon.[ Hehehe, bohong ding...dia naik omprengan pick up menuju ke Plumbon ]

Yeti, rela membajak sepeda kumbang Bapaknya yang mau dipakai berangkat ke pasar Jamblang.
“Hei, Yeti!? Bapak mau ke pasar!”
“Sebentar Pak, nanti sore saya balikin lagi!”
Yeti ngabur memacu sepeda kumbangnya, meninggalkan Bapaknya yang nangis meronta-ronta.

Singkat cerita, semua kumpul di depan pintu gerbang Neplusa. Dengan beraneka warna dan ragam bentuk sepeda. Lengkap dengan bentuk modifikasi yang sedang digandrungi kaum remaja waktu itu. Yuyun menggunakan sepeda merk Phoenik, dengan pita berjurai-jurai di ujung pegangannya dan keranjang di depannya. Yosep memakai sepeda balap kerennya, Sarwadi, Sarudin, Akmadi, Saya, memakai sepeda BMX. Lengkap dan tidak bisa saya gambarkan satu per satu.

To be Continued

Arisan

Posted in Cerita Nostalgia on Maret 13, 2009 by abyasa2

Arisan?
Apa si arisan itu, guys?

Arisan! adalah sebuah film drama satir mengenai kehidupan di Kosmopolitan Jakarta. Film ini dirilis pada 2003. Film ini memenangkan penghargaan Film Terbaik Festival Film Indonesia 2004.
[ Stop! ...Bukan film Arisan yang aku maksud.]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arisan adalah kegiatan pemgumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi untuk menentukan siapa yang memperolehnya. Undian dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Nah ini, arisan ini yang aku maksud. Dan inilah ceritanya…

***$$$***

Ide ini berasal dari kaum emak-emak di kelas kami, efek dari sering ngerumpi dan ngegossip di sela-sela pelajaran sekolah, atau ketika jam istirahat.
”Eh, kita bikin arisan, yuk?!” celetuk Lilis.
“Arisan apa?” tanya Casini.
“Ya uanglah, emang arisan apalagi…?”
“Barangkali aja, arisan cowok-cowok ganteng…”
Pletak!!… dia terkapar dijitak 7 wanita jagoan yang sedang ngerumpi di sudut kelas.

Akhirnya, setelah kasak-kusuk sana sini, cek and richeck, gossip, was-was, kabar-kabari dan segala aneka macam tingkah infotaintment lainnya, tekad untuk membentuk arisan itu makin membaja.
“Yah, kita mulai arisan besok…! Kita data dulu anggotanya yah?!” Lilis yang nampak antusias.
Dia memang punya bakat lebih untuk jadi ibu sosialita atau tipe-tipe ibu pejabat yang doyan kondangan.

Mulailah, keesokan harinya para calon emak-emak ini menginterogasi kita satu persatu :
“Hernalijo, kamu mau ikut arisan nggak?” tanya Wiwik, anggota interogator nomor 1.
“Nggak, emang gue cowok apaan…?” Hernalijo sok cuek.
“Tapi, Yuyun ikut loh, Her…?” Wiwik mencoba menawarkan rayuan madu.
“HAH?! YUYUN IKUT ARISAN?! Aku juga ikut deh…”
Satu mangsa terjerat dalam perangkap.

”Agus Suprapto, ikut arisan nggak?” kata 3 interogator sekaligus.
“Nggak…”
BAK, BIK, BUK…!!! BAK, BIK, BUK …!! GUBRAK…
”Oke, oke,…aku nyerah! Aku ikut deh…”
Satu mangsa terjerat dalam perangkap lagi, dengan muka babak-belur.

Begitulah teman-teman, para calon emak-emak sosialita ini bergentayangan setiap saat, setiap hari tanpa henti. Mencari mangsa. Baik dengan cara-cara halus, maupun dengan bantuan mahluk halus. Sampai akhirnya terkumpul hampir 85% anggota dari kelas kita. 15% lainnya ada yang abstain, golput, atau bahkan menjadi anggota oposisi sejati.
”Nggak, saya nggak punya duit…” kata Yeti.
”NGGAK, saya sudah ikutan arisan di 10 tempat lain…” kata Sarudin.
”Nggak, saya nggak mau ikut arisan, HARAM!!” Entah siapa yang berpendapat ini, saya lupa.
“Arisan..?! apa sih? Makanan yah?…”

Singkat cerita, terbentuklah kelompok arisan di kelas kita.

***

Arisan berjalan sesuai layaknya.

Undian pertama, Hernalijo yang ketiban untung.
“HOREEE!! HOREEEE!!” dia melonjak-lonjak kegirangan. Berlari kesana-kemari, muter-muter seperti ayam yang kena sambit batu.
“Uang arisannya buat apa, Jo?” tanya Dwi Nanta.

Hernalijo bingung mau diapakan uang arisannya, tapi sesaat kemudian di otaknya sudah tergambar Yuyun yang tengah tersenyum manis menunggunya. “YEAAAAAH”!! Dia seakan dapat ide brilian.
“Mau buat apa, Jo?” tanya Anwar Buyung.
“ADA DEEEH…” mata Hernalijo berbinar-binar, senyumnya mengembang penuh kemenangan.
“Traktir kita-kita dong, JO?” rengek Yosep.
”NGGAAAAK!”
Akhirnya para mahluk-mahluk yang mengerubuti Hernalijo dengan muka penuh belas kasihan, menjauh dengan gerundelan dan gerutuan. Hangus sudah impian mendapatkan makan gratis dari Hernalijo.

Ternyata, siang itu, diam-diam Hernalijo mendekati Yuyun yang tengah membaca buku Geografi di mejanya.
”Yun…” muka Hernalijo dibuat setampan mungkin, jambul rapih dan senyum mempesona.
“Ada apa?”
“Kita nonton film yuk?!”
“Kenapa memangnya?”
“Aku lagi banyak duit neh, dapet arisan…”
“Nggak deh Her, thanks..”
Jambul rambut Hernalijo langsung terkulai lemas, senyum pesonanya pun kempes.
“Lagian besok ada ulangan Geografi…”

Hernalijo berjalan gontai, seperti induk gorila yang habis melahirkan 7 anak kembarnya. Tapi dia tidak menyerah, besoknya dirayu lagi, gagal…lusanya di bujuk lagi, gagal… dan seterusnya dan seterusnya berulang kali.

Kami yang iba melihatnya selalu gagal dalam pertempuran, akhirnya sepakat mendekati Yuyun.
“Yun, tolonglah hibur dia…” bujuk Nono, “daripada nanti dia bunuh diri? Kasihan kan emaknya?”
Tadinya Yuyun tetap diam.
“Tolong dong, please…kemarin dia hampir minum Baygon loh.” Ibrahim ikut menimpali.
“Kemarinnya lagi, dia minum bensin…” Khafid mendramatisir.
”Kemarin juga, dia makan beling…” Endang Kusnadi tak kalah semangat.

Akhirnya, mungkin karena bosan dikerubuti mahluk-mahluk aneh tiap saat, Yuyun menyerah juga.
”Oke, tapi kita makan bareng-bareng aja di kantin yah?”
”YESS!!” teriak Nono.
”Asyik!!” Anwar Buyung girang bukan main.

Dan, esoknya Henalijo makin lunglai seakan tanpa tulang. Dengan muka lesu, jambul lunglai, dia bertopang dagu di pojokkan kantin, menyaksikan para mahluk-mahluk yang brutal itu dengan beringas menyantap semua makanan yang tersedia di kantin.

Lenyap sudah impian mengajak Yuyun nonton berduaan di bioskop, yang ada dia harus nombok ke kantin untuk membayar makanan yang ludes dijarah mahluk-mahluk buas yang berpesta pora itu.
”AYO HER! Yang penting, Yuyun bisa makan bersamamu…” Sarwadi teriak sambil menyantap pisang goreng, tahu isi, risoles, roket, donat, nagasari, kue lapis, pisang molen,kerupuk,….

Hernalijo pingsan.