Rainy blue story

“Sorry kejadian kemarin…”

Dia cuma tersenyum sedikit, tapi manis sekali ku rasakan.

“Yang narik rambut kamu, bukan Akmadi, tapi saya…”

“Saya sudah tau…”

“Maaf yah?”

Cuma senyum manis yang membalas ucapan saya.

 

Oh My God! Kejadian itu masih menempati diruang-ruang otakku. Dan peristiwa itu membuyarkan konsentrasiku untuk mengikuti pelajaran praktikum membedah katak, di laboratorium Biologi, siang ini.

“Hey, …pegang kakinya yang bener!” Yeti sewot, sambil mengarahkan pisaunya ke saya, “kalau tidak bener, kamu yang saya bedah!”

Busyet…perempuan yang satu ini benar-benar penjelmaan segala buto ijo dan psikopat.

 

Peristiwa ‘permintaan maaf’ kepada Sri itu terjadi pada siang kemarin, di ujung sekolah yang sepi, ketika jam bubaran sekolah dan dia sedang menunggu temannya. Itu juga kulakukan, setelah menghimpun jutaan nyali dan setelah tidak kuasa menahan himpitan senyum manisnya, yang menghantuiku sepanjang hari.

 

Gila, apakah ini yang dinamakan rindu?

 

“HOOOIII, pegang kaki kodoknya yang bener!!”

Perempuan buto ijo yang psikopat itu membuyarkan lamunanku lagi.

 

Oke, oke…aku berusaha serius memegang kaki kodok yang meronta-ronta itu, Khafid membawa buku dan alat tulis untuk menggambar dan menulis fungsi organ tubuh, Siswanto menyiapkan segala peralatan, dan Yeti sang pejagalnya.

 

Hmm,

Tiba-tiba ada bau harum nan lembut yang menelusup ke hidungku. Harum lembut yang khas. Diantara labolatorium yang anyir dan bau cairan kimia ini, aroma itu terasa begitu dekat. Ooh, ternyata dia di sampingku, sambil mencatat dan menggambar organ ikan yang sedang dibedah kelompoknya.

Yah, Yuyun, sang pemilik bau harum lembut ini. Nampak dia begitu serius mencatat, butiran keringat bening menghiasi kening mulusnya….manis sekali…

 

”HUWAAAAAAAAAHHH!’ tiba-tiba Yeti menjerit sejadi-jadinya.

Ternyata kodok yang ku pegang lepas, dan melompat ke sana-kemari. Buyarlah suasana di ruang laboratorium itu. Gempar dan kacau balau, murid cewek berlarian. Pisau-pisau beterbangan.

”Kamu sih, ngelamun saja!” pisau tajam Yeti, tepat menunjuk jidatku.

 

***

 

rain-onJam pulang sekolah.

Gerimis turun, menghiasi jendela kelas kami.

Beberapa murid sudah berlarian, menuju ke tempat parkir sepeda, dan segera mengayuh sepedanya berpacu dengan hujan yang makin menderas.

 

Aku sebenarnya amat menyintai hujan, indah nian menikmati rintik-rintiknya. Tetapi kepala sudah begini penatnya, susah untuk diajak kompromi menikmati nuansa indahnya hujan. Dan hujan di siang ini, menghalangi niatku untuk segera pulang ke rumah.

Begitu melewati pintu kelas, ufs…Yuyun masih berdiri bersandar, sambil mendekap buku praktikum Biologinya. Anggun nian, teman. Amat mempesona dengan aura intelektualitasnya bersama dekapan buku itu.

 

Entah kenapa, dara ini begitu manisnya. Apalagi dengan latar belakang hujan di sampingnya. Pantes saja banyak murid-murid cowok lain yang mengejar-ngejar pesonanya.

”Yun, belum pulang?” aku sekedar basa-basi, Teman. ( dan, ternyata…basi banget yah?)

”Belum…”

”Nungguin siapa?” aku mencoba iseng.

”Nungguin kamu.”

Entah dia bercanda, entah dia iseng, aku tidak perduli! Dia bohong pun, aku tak perduli, yang penting, kata-kata itu selalu aku ingat kala menyaksikan hujan, di mana pun hujan berada. Di Arab Saudi sekali pun!

 

Selanjutnya, obrolan kami mengalir begitu saja, seperti air hujan yang menyusuri selokan sekolah kami. Membicarakan kodok yang mengacaukan suasana praktikum biologi, membicarakan hujan, petir, dan hal-hal yang tidak penting lainnya. Tapi entah kenapa, obrolan-obrolan tidak penting itu menjadi amat penting saat itu, seperti rumus-rumus fisika yang akan dikeluarkan dalam ujian besok. 

 

Dan saya berharap, hujan ini akan berlangsung tanpa henti, setiap hari, sepanjang tahun. Tidak perduli banjir akan melanda seluruh Indonesia, atau menenggelamkan dunia. Btw, kenapa otakku jadi tidak waras begini?

 

Tapi, obrolan itu terasa menjadi hambar, ketika tanpa sengaja aku melihat sosok lain yang tengah bersandar menunggu hujan, di ujung koridor sekolah yang sepi. Itu kan,…Sri ?!

 

JUEGEERRR!

Halilintar dan petir makin mentertawakan situasi ini…

 

Ku teruskan obrolan ini, atau menghampiri sosok yang beberapa hari ini menghantui angan-anganku?

”Dekati dia, Sri menunggumu sendirian…” kata Setan Merah dalam otakku.

“Ah, biarkan saja! Kapan lagi kamu ngobrol dengan Yuyun?” Malaikat Putih mencoba membujukku.

”Kasihan, dia sendirian…”

“Ah, Yuyun juga sendirian…”

Setan Merah dan Malaikat Putih pun, akhirnya jotos-jotosan dalam otakku.

 

JUEGEERRR!

Seiring halilintar yang besar itu, Sri berjalan menyusuri hujan dan meninggalkan kami yang masih berbincang tentang molekul-molekul yang membentuk halilintar.

Aku menyaksikannya berjalan basah-kuyup sendirian, meninggalkan kami …

 

Hatiku hangus saat itu.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s