Bike To Telaga Remis #2

TELAGA REMIS sebuah obyek wisata terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jaraknya ±37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan ±13 km ke arah selatan dari kota Cirebon.

Kesanalah tujuan kami, Minggu itu.

“Muhaimin, absen dulu anggota yang ikut,” kata Pak Sewaka, untuk memastikan jumlah rombongan yang berangkat dengan jumlah yang pulang nanti, atau untuk memastikan supaya nanti anggota rombongan tidak tertukar dengan termos, panci, sandal jepit atau mahluk lainnya.
”Oke pak lengkap, hadir semua…” Muhaimin, sang Ketua Murid memberikan laporannya.

Setelah membaca do’a, sedikit petuah, (dan jampi-jampi seperlunya) akhirnya rombongan kami berangkat.
”GO!!” Pak Sewaka menyemangati.

Berangkatlah kami ke Telaga Remis, tepat pukul 07.00 WIB, dengan udara cerah berawan.
Rute yang kami tempuh waktu itu adalah start dari pintu gerbang Neplusa, menuju ke arah selatan ke arah Desa Purbawinangun (Cibiyuk), belok ke arah Desa Kasugengan Lor, Pasar Jamblang, belok lagi ke selatan, ke desa Kasugengan Kidul, Sidapurna, Waru Royom, Depok, terus ke selatan.

Sepanjang perjalanan itulah, ku saksikan aneka gaya anak-anak 2F Neplusa, mulai mendekati buruan hatinya masing-masing. Maklum, remaja SMP yang sedang kesambet asmara di puber pertama. Yang paling ku suka adalah gaya Nono, sang seniman gila kita. Dengan sepeda BMX modifikasinya (ban belakang pake ban vespa, dan ban depan pake roda traktor), hingga menyerupai perpaduan wujud motor Harley Davidson dan jerapah bunting. Dia mencoba meliuk-liuk di depan Lilis, menunjukkan kebolehannya, seperti kerbau jantan memikat betinanya.

Lilis masih acuh, ketika Nono meliuk di depannya dengan melepaskan kedua tangannya dari setir sepeda.
Nono tidak menyerah, dia mencoba atraksi lain dengan lepas kaki campur aksi akrobat jungkir balik.
Lilis masih cuek, dan hasilnya Nono dengan sukses nyungsep di pinggir sawah sekitar daerah Bobos.

Hernalijo yang sedang mendekati Yuyun, tak kalah heroiknya dia beratraksi. Mulai dari lepas tangan, lepas kaki, lepas baju, hingga lepas kolor dia lakukan semua. Dan hasilnya masih tetap nihil.

Muhaimin, diam-diam mendekati Wiwik yang sedingin es campur. Sarwadi mendekati Sanira, yang mulai kelihatan merona pipinya di timpa cahaya mentari pagi. Justru yang aneh, ketika Fatmawati mendekati Yosep yang dengan cool-nya menyalip sepeda kami semua.
“YOSEP! Tunggu dooong…” rengek Fatmawati manja.
Yosep yang memakai walkman di telinganya, masih acuh mengayuh sepeda balapnya.
”YOSEP, TUNGGU!!”
Yosep masih acuh.
Sampai akhirnya dia nyungsep, ketika sepatu Fatmawati mendarat di kepalanya.

Aku, Afandi, Yakub, Heri, Alamsyah dan kumpulan yang terbuang lainnya, cuma menikmati ulah mereka dari belakang.

***

Di sekitar daerah Keramat, kami beristirahat di gubuk kecil pinggir sawah.
Dan mulailah kita menyantap makanan kecil dan minuman yang kita bawa untuk bekal di perjalanan. Hernalijo yang membawa perbekalan paling banyak di tas ranselnya, segera membuka isi tasnya. Mulai dari serabi, minuman dingin, bakwan, lontong sayur, kompor, meja makan 4 kursi, kulkas, semuanya dia bawa.

Dan kembali, dia merayu Yuyun, ”ayo Yun, minum sesuka yang kamu mau…”
”Makasih, saya sudah bawa sendiri…”
Yuyun menghindar, sambil duduk di sampingku yang sedang minum teh manis dari ranselku.
Aku menjadi gemeteran.

Untuk membunuh canggungku, aku pura-pura memetik bunga ilalang liar yang tumbuh di dekatku.
”Mau kue nggak?” tiba-tiba dia menawarkan kue yang dia bawa.
Aku makin gemeteran, lidahku keluh.
”Ini bikinan Mama sama aku, tadi malam…”
Mmm, pantesan manis, lembut, seperti yang membuatnya…ufs?! hehehe…

Begitulah teman.
Dalam keadaan canggung, gugup dan gemetar, aku coba mencairkan suasana, iseng kuberikan bunga ilalang liar yang aku petik tadi.
“Sorry, aku cuma bawa ini…” ide gila! Ku berikan bunga ilalang itu.
”Thanks! Oh, ternyata indah yah?”
Diluar dugaan akal sehatku, dia menyematkan bunga ilalang di rambutnya.

Begitulah teman.
Sepanjang perjalanan bersepeda kami – ke Telaga Remis – dia menyematkan bunga ilalang liar pemberianku di atas telinganya. Berkibar-kibar indah di tiup angin pegunungan yang sejuk, seperti hatiku yang juga berkibar-kibar tak menentu.

Hijaunya pepohonan yang tumbuh lebat menambah suasana bertambah sejuk hati ini di sepanjang jalan menuju kawasan obyek wisata Telaga Remis.

***

Telaga Remis Sendiri saat ini di kelola oleh PT. Perhutani Kabupaten Cirebon, selain menawarkan keindahan telaga juga terdapat hutan yang tumbuh lebat di areal obyek wisata. Hal ini menambah hijaunya pemandangan di sekeliling kawasan obyek wisata tersebut.

Telaga Remis merupakan perpaduan antara pesona alam hutan pegunungan serta air danau yang jernih, bening seperti kaca serta didukung udara pegunungan yang sangat sejuk.

Satu pemikiran pada “Bike To Telaga Remis #2

  1. smpn1plumbon mengatakan:

    salam kang senior……

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s