Mak Comblang,
Bukan saudara jauh Mak Lampir apalagi ipar Mak Erot. Dia semacam kabel, yang kegiatannya menghubungkan elektron kutub positif dan kutub negatif, sehingga menjadi sumber tenaga. Sumber tenaga yang bernama asmara puber pertama.
Nah, berhubung di kelas kami banyak yang mukanya mirip kabel, maka kegiatan Mak Comblang adalah kegiatan yang lumrah di kelas kami. [ Apalagi di kelas kami banyak unsur yang negatif, hehehe...] Bahkan ada yang membisniskan kegiatan ini, salah satu contohnya Endang Komala.
Dialah [yang disinyalir menjadi] mak comblang Peppy dengan Risdianto, Siswanto dan Yeni, Lilis dan Harto, terakhir Alamsyah dan Heri.
Seperti di pojok kantin kelas siang itu,
”Kom, tolong sampaikan salam buat Risdianto yah?” kata Peppy, kelas 2H.
“Syaratnya mana?”
Dan keluarlah sebatang permen coklat SilverQueen rasa pisang bakar untuknya.
Di siang yang lain,
“Kom, sampaikan salam buat Lilis yah?” kata Harto, anak kelas 2G, yang berambut basah kelimis.
“Syaratnya dong…?”
“Ngutang dulu deh…!”
“Ya udah, salamnya sampe besok lusa…”
Begitulah kira-kira kegiatan mak comblang kita pada waktu itu, 1989. Harap maklum, jaman itu belum ada mahluk bernama HP, Facebook, Friendster atau apa pun alat yang bisa menghubungkan perkenalan kita dengan mudah. Alat hubung efektif perkenalan yang ada saat itu adalah mak comblang, surat dan batu.
Surat, banyak kelemahannya diantaranya lama diterima, kadang salah alamat dan harus beli perangko. Jadi jarang digunakan. So… yang paling efektif cuma dua : mak comblang dan batu.
Batu?! Ya batu… kalau kamu mau kenalan, tinggal timpuk aja dia pake batu :
“Ngapain kamu nimpuk saya?!” dia pasti akan mendekatimu dengan jengkel.
“Mau kenalan, boleh kan?!”
BUK!
Siap-siap aja, kamu kena bogem dia sebelum kenalan berlanjut. Cara ini pernah dipraktekan oleh Sarudin. Dan terbukti, tiga kali kepala benjol kena bogem tetapi perkenalan belum nyambung juga.
***
Nah, saya punya pengalaman yang ruwet dengan masalah yang bernama Mak Comblang ini. ketika pada suatu pagi, menjelang jam istirahat, Akmadi datang menghampiri saya dengan muka memelas.
Saya jamin, kalau dengan muka seperti itu dia berdiri di simpang lampu merah, banyak uang recehan menghampirinya dengan perasaan penuh iba atau bisa juga petugas Tramtib Satpol PP menggaruknya untuk di data di kantor Dinas Sosial.
“Tolonglah aku…” rengeknya seperti perpaduan suara rintihan kejepit pintu dan batuk kering.
“Kenapa, kamu…? Belum makan obat?”
“Aku terserang demam…”
“Demam atau AIDS?”
”Demam asmara…tolonglah aku…”
Kalau dia bukan sobatku, sudah kugunakan dia buat umpan pancing ikan lumba-lumba di laut.
Berkeluh-kesahlah dia tentang demam asmaranya yang kronis itu. Ternyata…Oh, ternyata, dia tengah demam asmara ke Sri, anak 2G yang berpita merah yang manis itu.
”Tolonglah sampaikan salamku, kamu kan udah dekat sama dia…?” dia merengek lagi, kali ini sambil berbangkis. [ Aku juga baru belajar kenal dengan dia, Dodol! Makiku dalam hati ]
Dan, aku juga terjerat demam asmara seperti yang dia rasakan, dengan orang yang dia idamkan…
Taukah itu, hai Akmadi dodol?
Gimana coba, aku harus mengungkapkan hal ini…?
”Tolongggg akuuuu..hu..hu..”
”OKE, OKE…” daripada dia nangis sambil meluk-meluk aku, aku putuskan setuju saja.
”THANKS?!” eh, dia melonjak girang dan meluk aku juga… Hiiii Jijay Marijay Sanjay Maranjay Ranjay…!!!
***
Bagaimana aku harus memulai aksi mak comblang ini? apa yang pertama harus aku lakukan?
Sedangkan menatap sosoknya saja, aku sudah kejang-kejang oleh pesonanya…
To be Continued

mantap bosssss, ane angkatan 93. ada cerita ga tentang angkatan 93 hehehe….