Hama Pengganggu

Seperti sudah digariskan oleh alam, kalau taman indah penuh bunga pasti akan dihinggapi aneka kumbang dan juga hama wereng.

Begitu juga keadaan kelas kami. Kelas kami yang penuh keindahan oleh taburan pesona Yuyun, Wiwik, Lilis, Fatmawati, Sanira, dan lain-lain, sudah pasti mengundang kumbang-kumbang datang merayu pesonanya. Tapi sayangnya yang datang ( kayaknya ) bukan kumbang, tetapi hama wereng.
Dan, dia bernama Adiman.

Adiman, murid cowok kelas sebelah [ yang selalu berpenampilan gothic, antik, eksentrik dan rambut jabrik ], selalu beredar menebarkan pesona di sekitar jendela kelas kami.
”Hai, Yuyun…” godanya dari balik jendela, pada hari Senin, dengan rambut berjambul dangdut.
”Hai, Wiwik…” rayunya dari balik jendela, pada hari Selasa, dengan 3 kancing baju terbuka di dada.
”Hai, Lilis…” katanya dari balik jendela, pada hari Rabu, dengan celana melorot sebatas lutut.
Pada hari Kamis, jendela kelas ditutup rapat-rapat oleh Sarudin.

***

Terus terang saja, kami merasa terganggu dengan penampilan dan rayuan gombalnya.
“Kita harus ambil tindakan neh…” Kata Gatot, yang sudah gatel ingin menghentikan agresi Adiman kepada murid cewek kelas kami.
”Tenang…tenang, kita cari langkah-langkah persuasif dulu…” Muhaimin, sang Ketua Murid, mencoba menenangkan suasana, layaknya politisi yang hendak menawarkan koalisi.

Tindakan persuasif yang ditempuh Muhaimin, adalah dengan pendekatan liberal antar kedua kelas, 2F dan 2D. Muhaimin menghubungi Ketua Murid 2D, Wahyu.
”Tolonglah, Yu…nasehati Adiman, jangan mengganggu kedaulatan wilayah kami…” Muhaimin mulai bernegosiasi.
”Oke, nanti kita usahakan…”

Negosiasi itu berlangsung di meja bundar, kantin sekolah. Terinspirasi pada semangat peristiwa Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dari tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949.
[ Masih inget nggak, pelajaran sejarah? ]

Tapi, ternyata perjanjian konferensi dilanggar : Adiman tetap tidak bisa dihentikan agresinya. Malah tindakannya lebih nekat, dia mendekati murid cewek lebih agresif.
”Hai,…kenalan dong.” dia merayu Fatmawati di parkir sepeda, ketika jam sekolah usai.
Fatmawati cuek.
”Kenalan doong…” tangannya mulai kreatif mencolek Fatmawati.
Dan ternyata tangan Fatmawati lebih kreatif : KLEPAK…!!
Adiman terkapar pingsan, setelah Fatmawati mendaratkan sepeda di mukanya.

***

“Wah, ini tidak bisa di diamkan, ini sudah melanggar kedaulatan kita!”
Gatot sudah tidak bisa menahan amarahnya. Sang Bodyguard kelas kami ini langsung menyingsingkan lengan baju, mengangkat bahu, memanggul pacul, begitu mendengar insiden pencolekan Fatmawati.

Cowok-cowok sudah siap sedia membela tanah tumpah darah.
Tapi, kami langsung melongo bengong ketika tiba-tiba Yuyun berbicara dengan tegas, ”tenang…jangan pake cara kekerasan, biar saya yang selesaikan..”
HAAH?!!!
Bagaimana kami harus tega, mengumpankan aset paling berharga kelas kami kepada hama wereng pengganggu itu?.
”Yuyun, jangan mau jadi istri Adiman…hu..hu..hu!!” Hernalijo yang nampak terpukul sekali mendengar keputusan Yuyun…”Yun, sadarlah, kemabalilah ke jalan yang benar…”

Kami bingung, apa yang akan dilakukan dara manis itu?
Bersedia menjadi pacar Adiman kah, demi ketentraman kelas kami..?!
Ah, kami semua tidak rela…

***

Besoknya,
Penampilan Yuyun benar-benar amat mempesona, 1000 kali lipat lebih manis dari sebelumnya, dengan rambut memakai pita merah jambu yang berjuntai-juntai.
Manis nian, Kawan…!

Kami langsung dibuatnya panas dingin, Hernalijo yang amat memujanya makin kejang-kejang dan mulut berbusa, Adiman makin intensif mendekatinya…
”Hai manis, kenalan dong…”
”Hai cantik, kenalan dong…”
Gaya Adiman makin tak karu-karuan setiap hari, mencoba memikat Yuyun. Rambut berjambul, celana berantai, sepatu beroda, punggung berekor.

Begitulah hari demi hari Yuyun makin mempesona saja, kami sudah pingsan semua dimabuk pesonanya selama seminggu. Dan inilah berita terakhir yang membuat kami lesuh darah : dia berjalan berduaan dengan Adiman!

Ah, puteri jelita itu akhirnya di makan buto ijo, seperti dongeng Timun Mas…
Kami mengutuk-ngutuk dan berharap semoga Buto Ijo itu cepat menjemput ajalnya…
“Yun, jangan biarkan kamu mengorbankan diri demi kita…” rengek Hernalijo, ”biarlah ku ganti posisi dirimu, jadikan aku pacar Adiman…”
Yuyun menjawab kalem, “Tenang…permainan belum berakhir, Her…”

Permainan?
Permainan apalagi Yun…?

To be Continued

Satu pemikiran pada “Hama Pengganggu

  1. Ronny mengatakan:

    Aq tau smua crita itu,krn waktu itu aq skelas dgn adiman,dan waktu klas 1 jd tetangga kelas kalian dan kbetulan jd km mski cuma satu smester,gmn kbar yuyun ktanya dah jd bidan,pdahl rumahku dekt tp aq dah belasan tahun dinegeri ginseng jd kurng mngikuti prkembangn tman2,klo gatot aq paham dia dipadang,soalnya aq sering dnger kbar dari alamsyah temnku sejak kecil

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s